Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil (Ambang)

Pasien dengan gangguan kepribadian ambang (emosional tidak stabil) berada pada perbatasan antara neurosis dan psikosis. Suatu gangguan kepribadian di mana terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsive tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bersamaan dengan ketidakstabilan afek. Dua varian dari gangguan kepribadian ini telah ditentukan dan keduanya mempunyai persamaan motif umum berupa impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri.
1.      Tipe impulsive
Khas terjadi ketidakstabilan emosional dan kekurangan pengendalian impuls (dorongan hati).
2.      Tipe ambang
Terdapat beberapa ciri khas ketidakstabilan emosional; lagipula gambaran diri pasien, tujuan dan preferensi internalnya (termasuk seksual) sering kali tidak jelas atau terganggu.
Epidemiologi
Diperkirakan ada pada kira-kira 1-2 persen populasi dan dua kali lebih sering pada wanita dibandingkan laki-laki. Suatu peningkatan prevalensi gangguan depresif berat, gangguan penggunaan alcohol dan penyalahgunaan zat adalah ditemukan pada sanak saudara derajat pertama orang dengan gangguan kepribadian ambang.
Diagnosis
Beberapa pasien menunjukkan penuruna latensi tidur REM dan gangguan kontinuitas tidur, hasil tes deksametason yang abnormal dan hasil tes thyrotropin-releasing hormone yang abnormal.Tetapi perubahan tersebut juga ditemukan pada beberapa kasus gangguan depresif. Menurut DSM-IV diagnosis gangguan kepribadian ambang dapat dibuat pada masa dewasa awal jika pasien menunjukkan sekurangnya lima dari kriteria berikut:
1.      Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan. Catatan: tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri pada criteria 5.
2.      Pola hubungna inter personal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan antar ekstrem-ekstrem idealisasi dan devaluasi.
3.      Gangguan identitas: citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan persisten.
4.      Impulsivitas pada sekurang-kurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri (misalnya berbelanja, seks, penyalahgunaan zat, ngebut-ngebutan gila, pesta makan). Catatan tidak termasuk criteria 5.
5.      Perilaku, isyarat, atau ancaman bunuh diri yang berulang kali atau perilaku mutilasi diri.
6.      Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya, disforia episodic kuat, iritabilitas, atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari).
7.      Perasaan kekosongan yang kronis.
8.      Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan kemarahan (misalnya, sering menunjukkan temper, marah terus-menerus, perkelahian fisik berulang kali).
9.      Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stress atau gejala disosiatif yang parah.
Gambaran Klinis
Pasien dengan gangguan hampir selalu dalam keadaan kritis. Dapat bersikap argumentative pada suatu waktu dan terdepresi pada waktu selanjutnya dan selanjutnya mengeluh tidak memiliki perasaan pada waktu lainnya.
Pasien mungkin memiliki episode psikiatrik singkat (mikropsikotik), gejala psikotik terbatas, cepat atau meragukan. Perilakunya sangat tidak bias diramalkan. Pasien mungkin mengiris pergelangan tangannya sendiri dan melakukan tindakan mutilasi untuk mendapatkan bantuan dari orang lain, untuk mengekspresikan amarah atau menumpulkan diri sendiri dari afek yang melanda.
Mereka dapat sangat bergantung pada orang lain, dan dapat meluapkan amarah-amarahnya kepada teman terdekatnya. Pasien biasanya lebih senang bila ditemani, maka biasanya penderita akan mencari teman mati-matian karena dengan begitu kesepian yang dihadapi dapat menenang. Sering kali mereka mengeluh perasaan kekosongan dan kebosanan yang kronis dan tidak memiliki rasa identitas yang konsisten (difusi identitas); jika ditekan, seringkali mengeluh tentang betapa terdepresinya perasaan mereka pada kebanyakan waktu kendatipun kebingungan afek lain.
Secara fungsional, pasien gangguan kepribadian ambang mengacaukan hubungan mereka dengan mengkategorikan orang dalam jahat dan baik. Sebagai akibat dari pembelahan ini, orang yang baik diidealkan dan orang yang jahat direndahkan.
Diagnosis Banding
1.      Skizofrenia
Dibedakan berdasarkan tidak adanya episode psikotik, gangguan pikiran atau tanda skizofrenia klasik lainnya.
2.      Skizotipal
Dibedakan pada pikiran yang aneh, gagasan yang aneh dan gagasan menyangkut diri sendiri yang rekuren.
3.      Gangguan kepribadian paranoid
Ditandai oleh kecurigaan yang ekstrem.
4.      Gangguan kepribadian histrionik dan antisocial
Sukar dibedakan dari pasien ambang. Pada umumnya, pasien dengan gangguan kepribadian ambang menunjukkan perasaan kekosongan yang kronis, impulsivitas, mutilasi diri, episode psikotik singkat, usaha bunuh diri manipulative dan biasanya keterlibatan yang menuntut dalam hubungan erat.
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Memiliki insidensi tinggi untuk mengalami episode gangguan depresif berat. Diagnosis dibuat sebelum umur 40 tahun, jika pasien berusaha mengambil pilihan pekerjaan, perkawinan dan pilihan lain dan tidak mampu mengatasi stadium normal siklus kehidupan tersebut.
Terapi
1.      Psikoterapi
Pendekatan berorientasi realitas adalah lebih efektif dibandingkan interpretasi bawah sadar secara mendalam. Terapi perilaku digunakan untuk mengendalikan ledakan kemarahan dan untuk menurunkan kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan social, khususnya dengan videotape, dapat membantu pasien untuk melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain.
2.      Farmakoterapi
Antipsikotik digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan dan episode psikotik singkat. Antidepresan memperbaiki mood yang terdepresi. MAOI efektif dalam memodulasi perilaku impulsive. Benzodiazepine (alprazolam) membantu kecemasan dan depresi. Antikonvulsan (carbamazepine) dapat meningkatakn fungsi global. Obat serotonergik (fluoxetine) juga dapat membantu dalam beberapa kasus.
By. Abdul Halim Harahap S.Ked
07171094

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *