Gangguan Kepribadian Skizotipal

Gangguan kepribadian skizotipal adalah suatu kondisi gangguan serius dimana individu hampir tidak pernah berhubungan lagi dengan orang-orang sekitarnya. Individu tersebut cenderung menutup diri untuk berinteraksi dengan orang lain, kecemasan luar biasa yang muncul ketika berhadapan dengan situasi sosial.
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal hampir selalu bermasalah dengan orang lain dan bersikap tidak ramah kepada siapapun. Kebanyakan dari individu dengan gangguan kepribadian ini hidup dalam kesendirian, hal ini disebabkan lingkungan sekitar yang mengisolasinya. Akibatnya, penyimpangan persepsi mengenai bentuk hubungan interpersonal akan terus berkembang dalam diri individu itu. Selanjutnya, ia akan menunjukkan perilaku yang aneh, respon yang tidak tepat dalam bersosialisasi dan sifat-sifat yang tidak lazim.
Gangguan kepribadian skizotipal merupakan spektrum dari gangguan kepribadian skizoid dalam taraf ringan dan pada tahap berat adalah skizofrenia. Secara biologis, beberapa ahli menyatakan bahwa ketiga gangguan ini mempunyai kesamaan genetik pada tiap individu, namun demikian belum dapat dipastikan bagaimana persamaan gen tersebut dapat menimbulkan jenis gangguan yang berbeda-beda pula.
Diantara individu yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal diantara mengalami gangguan dan kesulitan dalam memori, belajar dan perhatian (konsentrasi). Beberapa gejala kemunculan gangguan tidak diikuti gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi, beda halnya pada gangguan skizofrenia yang disertai gejala psikotik secara keseluruhan dan intens. Namun demikian, gangguan kepribadian skizotipal dapat berkembang menjadi skizofrenia.
Epidemiologi
Diperkirakan 4% dari seluruh populasi mengalami Gangguan Kepribadian Skizotipal, dengan penderita pria sedikit lebih banyak daripada wanita
Kriteria Diagnostik:
  1. Afek yang tak wajar atau yang mengalami konstriksi (individu tampak dingin dan tak bersahabat).
  2. Perilaku yang aneh, ekstrinsik, atau ganjil.
  3. Hubungan sosial yang buruk dengan orang lain dan tendensi menarik diri.
  4. Kepercayaan yang aneh atau pikiran magis, yang mempengaruhi perilaku dan tidak serasi dengan norma-norma budaya.
  5. Kecurigaan atau ide paranoid.
  6. Pikiran obsesif yang direnungkan dan tak terkendali, sering dengan isi yang bersifat dismorfofobik (dysmorphophobic), seksual atau agresif.
  7. Persepsi-persepsi panca indera yang luar biasa termasuk mengenai tubuh (somatosensory) atau ilusi-ilusi lain, depersonaliti atau derealisasi.
  8. Pemikiran yang bersifat samar-samar (vague), sirkumstansial (circumstantial), penuh kiasan (metaforsis), sangat terinci dan ruwet, atau stereotipik, yang dimanefestasikan dalam pembicaraan yang aneh atau cara lain, tanpa inkoherensi yang jelas atau nyata.
  9. Sewaktu-waktu ada episode menyerupai keadaan psikotik yang bersifat sementara dengan ilusi kuat, halusinasi auditorik atau lainnya, dan gagasan yang mirip waham, biasanya terjadi tanpa provokasi dari luar.
Diagnosa Banding
1.      Secara teoritis, pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari pasien gangguan kepribadian skizoid dan menghindar oleh adanya keanehan dalam perilaku, pikiran, persepsi, dan komunikasi mereka dan kemungkinan oleh riwayat keluarga yang jelas adanya skizofrenia.
2.      Pasien gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari pasien skizofrenik oleh tidak adanya psikosis. Jika psikosis memang ditemukan, gejala tersebut adalah singkat dan terpecah.
3.      Pasien gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan, tetapi tidak memiliki perilaku yang aneh seperti pada pasien gangguan kepribadian skizotipal.
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Kemunculan gangguan kepribadian skizotipal dimulai pada awal memasuki masa dewasa dan terus berkembang sepanjang masa hidupnya. Seperti gangguan kepribadian lainnya, gangguan kepribadian skizotipal disebabkan perilaku dan pengalaman yang tidak tepat pada masa kanak-kanak, sebagian besar dari gangguan tersebut disebabkan oleh kesulitan dalam beradaptasi dan pengalaman terhadap penanganan distres.
Terapi
1.      Farmakoterapi
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan gangguan kepribadian ini, dokter menganjurkan obat antidepressant atau antipsikotik bila individu tersebut juga mengalami gangguan kecemasan, depresi atau gangguan mood lainnya. Obat risperidone (Risperdal) dan olanzapine (Zyprexa) diberikan bila individu mengalami penyimpangan (gangguan) dalam berpikir.
2.      Psikoterapi
a.       Behavioral therapy
Individu dengan gangguan kepribadian skizotipal membutuhkan kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, ia membutuhkan teknik-teknik baru untuk melakukan pendekatan dengan orang lain. Terapis mengajarkan bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan berekspresi secara tepat. Individu juga diajarkan bagaimana mengatur suara atau berbicara ketika berhadapan dengan orang lain. 
b.      Cognitive therapy
Dalam terapi ini individu belajar untuk merespon dan dilatih untuk fokus terhadap suatu masalah dari pikiran-pikiran menganggu. Terapi ini juga melatih individu untuk memisahkan masalah-masalah sosial yang membingungkan dari pikiran-pikirannya sendiri terutama dari hal-hal yang membuat individu mengelak dari situasi interpersonal.
c.       Family therapy

Terapi dapat efektif bila semua anggota keluarga dilibatkan, konselor atau ahli terapi dilibatkan secara langsung dalam keluarga dapat mengurangi letupan amarah dan menjaga hubungan emosional antar sesama anggota keluarga. Terapi ini juga dapat meningkatkan moral dalam keluarga


By. Abdul Halim Harahap S.Ked

07171094

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *