GANGGUAN KEPRIBADIAN 2

Definisi
Gangguan kepribadian adalah suatu gangguan berat dalam konstitusi karakter dan kecenderungan perilaku dari individu, biasanya meliputi beberapa bidang dari kepribadian dan hampir selalu berhubungan dengan kekacauan pribadi dan social. Kepribadian yang dimana merupakan pola kronis dari perasaan dan tingkah laku yang mana secara mencolok menyimpang dari kebiasaan dan harapan yang berlaku dalam kehidupannya entah norma secara kelompok atau pribadi. Mereka yang mengalami gangguan kepribadian cenderung akan berperilaku kaku, tidak fleksibel dan maladaptif, serta mengarahkan penderita pada hilangnya fungsi mental seperti terjadinya perasaan kalut dan kesedihan yang bersifat merusak di dalam diri penderita. Secara umum, memiliki gangguan kepribadian berarti memiliki kaku dan berpotensi merusak diri sendiri atau merendahkan diri-pola berpikir dan berperilaku tidak peduli pada situasinya. Hal ini menyebabkan stress dalam hidup atau gangguan dari kemampuan untuk beraktivitas rutin di tempat kerja, sekolah atau situasi sosial lain.
Gangguan kepribadian ini cenderung muncul pada akhir masa kanak atau remaja dan berlanjut pada masa dewasa. Karenanya diagnosis gangguan kepribadian tidak cocok apabila diberikan pada usia di bawah 16 atau 17 tahun.
Etiologi
Kepribadian adalah hasil interaksi antara faktor konstitusi, pengalaman masa perkembangan dan pengalaman selanjutnya dalam masa kehidupan.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian:
1.      Faktor genetik
Penelitian pada 15.000 pasangan kembar (monozigotik dan dizigotik) di Amerika Serikat membuktikan bahwa angka kejadian gangguan kepribadian pada kembar monozigot adalah beberapa kali lipat dibandingkan dengan kembar dizigot. Menurut penelitian tentang multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar monozigotik yang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang dibesarkan bersama-sama. Penelitian juga menemukan faktor genetik pada anak dari orang tua dengan gangguan kepribadian antisocial yang sejak bayi dibesarkan dalam lingkungan orangtua yang tidak menderita gangguan kepribadian antisocial dan penyalahgunaan alcohol.
Gangguan kepribadian kelompok A (paranoid, schizoid dan skizotipal) adalah lebih sering ditemukan pada sanak saudara biologis dari pasien skizofrenik dibandingkan kelompok control.
Gangguan kepribadian kelompok B (antisocial, ambang, histrionic dan narsistik) memiliki suatu dasar genetika.
Gangguan kepribadian kelompok C (menghindar, dependen, obsesif-kompulsif dan tidak ditentukan) mungkin juga memiliki dasar genetika.
2.      Faktor biologi
          Hormon. Orang yang menunjukkan impulsive sering kali juga menunjukkan peningkatan kadar testosterone, 17-estradiol dan estrone. Kadar MAO trombosit yang rendah juga telah ditemukan pada beberapa pasien skizotipal. Gerakan mata mengejar yang halus (smooth pursuit eye movement) adalah abnormal pada orang dengan sifat introversi, harga diri rendah dan menarik diri dan pada pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal. Gerakan mata pada orang tersebut adalah sakadik (yaitu, menyentak).
          Neurotransmiter. Endorfin memiliki efek yang serupa dengan morfin eksogen, termasuk analgesic dan supresi rangsangan. Kadar endorphin endogen yang tinggi mungkin berhubungan dengan orang yang flegmatik-pasif. Penelitian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotogenik menyatakan suatu fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut. Kadar 5-hydroxy-indoleacetic acid (5-HIAA), suatu metabolit serotonin, adalah rendah pada orang yang berusaha bunuh diri dan pada pasien yang impulsive dan agresif. Meningkatkan kadar serotonin dengan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine (Prozac) dapat menghasilkan perubahan dramatic pada beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas dan perenungan pada banyak orang dan dapat menghasilkan perasaan kesehatan umum. Meningkatnya kadar dopamine di dalam SSP, dihasilkan oleh psikostimulan tertentu (sebagai contoh, amfetamin) dapat menginduksi euphoria. Efek neurotransmitter pada sifat kepribadian telah menciptakan minat dan kontroversi tentang apakah sifat kepribadian dibawa sejak lahir atau didapat.
          Elektrofisiologi. Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram (EEG) telah ditemukan pada beberapa pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan ambang, dimana ditemukan aktivitas gelombang lambat.
3.      Faktor temperamen
Faktor ini berkaitan dengan faktor genetik dan biologic serta merupakan sesuatu yang bersifat konstitusional sejak lahir. Contoh, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami gangguan kepribadian menghindar. Gangguan kepribadian tertentu mungkin berasal dari kesesuaian parental yang buruk, yaitu ketidaksesuaian antara temperamen dan cara membesarkan anak. Sebagai contoh, seorang anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu yang sama pencemasnya adalah lebih rentan mengalami gangguan kepribadian dibandingkan anak yang sama yang dibesarkan oleh ibu yang tenang.
4.      Interaksi antara faktor temperamen dengan faktor lingkungan
Berdasarkan hasil observasi jangka panjang sejak bayi, Stella Chess dan Alexander Thomas mengemukakan teori Goodness of fit yaitu beberapa jenis gangguan kepribadian adalah hasil interaksi dari ketidakcocokan antara temperamen seorang anak dengan cara mendidik anak.
5.      Faktor lingkungan dan budaya
Lingkungan dan budaya yang bersifat keras, tidak toleran, punitive dan agresif sering menanamkan dasar-dasar paranoid dan antisocial.
6.      Faktor psikodinamik
Yang dimaksud adalah faktor psikologis yang mengorganisasi, berkonsolidasi, bersifat kukuh dan secara maladaptive mengadakan, menyesuaikan dan menyelesaikan konflik dalam pengalaman hidup.
Sigmund Freud menduga ciri kepribadian berhubungan erat dengan fiksasi pada salah satu fase perkembangan sebelumnya. Misalnya, orang yang pasif dan dependen mempunyai fiksasi pada fase oral. Selanjutnya, Wilhem Reich mengemukakan bahwa gejala gangguan kepribadian sangat ditentukan oleh jenis defen mekanisme yang  dipergunakannya. Misalnya, orang dengan gangguan kepribadian paranoid menggunakan defen mekanisme proyeksi, orang dengan gangguan kepribadian kompulsif menggunakan defen mekanisme isolasi, dan orang dengan gangguan kepribadian histrionik menggunakan defen mekanisme dissosiasi.
Epidemiologi
Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa 5 sampai 10% penduduk dewasa menderita gangguan kepribadian. Jadi prevalensi gangguan kepribadian ternyata 5 sampai 10 kali lebih tinggi dari prevalensi skizofrenia dan gangguan afektif berat, serta hampir sama dengan prevalensi gangguan neurotik.
Prevalensi gangguan kepribadian lebih tinggi pada kelompok masyarakat yang  dipenjarakan dan penduduk dengan sosial ekonomi rendah.
Kriteria Diagnosis
a.       Sikap dan perilaku yang amat tidak serasi yang biasanya meliputi beberapa bidang fungsi, misalnya afek, kesadaran, pengendalian impuls, cara memandang dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain.
b.      Pola perilaku abnormal berlangsung lama, berjangka panjang, dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa.
c.       Pola perilaku abnormalnya pervasive dan jelas maladaptive terhadap berbagai keadaan pribadi dan social yang luas.
d.      Manifestasi di atas selalu muncul pada masa kanak atau remaja dan berlanjut sampai usia dewasa
e.       Gangguas menjurus kepada pasien pribadi yang berarti, tetapi mungkin hal ini hanya menjadi nyata kemudian dalam perjalanan penyakitnya.
f.       Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berhubungan secara bermakna dengan masalah pekerjaan dan kinerja social.
Untuk mendiagnosis berbagai sub type, bukti nyata biasanya dibutuhkan tentang adanya paling sedikit tiga dari cirri atau perilaku di atas.
Gejala
Gejala umum g
angguan kepribadian meliputi:
1.      Mood yang berubah-ubah
2.      Hubungan yang tidak harmonis
3.      Mudah marah
4.      Kecurigaan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain
5.      Kesulitan berteman
6.      Sebuah kebutuhan untuk kepuasan instan
7.      Penyalahgunaan Alkohol atau narkotika dan obat-obatan terlarang
klasifikasi

a. Cluster A
-.Skizoid
-.paranoid
-.skizotipal
b. Cluster B
-. Narsistik
-. Histrionik
-. Ambang
-. Anti sosial
c. Cluster C
-. Anankastik
-. Avoidance
-. Dependent

By. Abdul Halim Harahap S.Ked
07171094

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *