PERILAKU

1. DEFINISI
Perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Tingkah laku menunjukkan semua perbuatan yang tampak (overt) maupun tak tampak (covert).
Dalam pemeriksaan psikiatri, kita harus memperhatikan sikap dan tingkah laku penderita, kita perhatikan selama wawancara berlangsung. Hal ini penting, oleh karena sikap dan tingkah laku penderita tak dapat lepas dan keseluruhan ekspresi penderita.
Perbedaan antara sikap dan tingkah laku :
1.      Sikap ( attitude) yang lebih menandaskan sesuatu keadaan yang statis jadi non-dinamis, dalam arti kata bahwa gerakan-gerakan badan pada umumnya agak terbatas.
2.      Tingkah laku (bihaviour) yang lebih bercorak gerak gerik motorik dan aktifitas, terutama kaki dan tangan penderita.
Sikap yang diperlihatkan penderita
  1. Indiffirent : sikap yang tidak menuju kesuatu kecenderungan (tendensi) tertentu, jadi banyak bersifat netral.
  2. Apatik : sikap acuh tak acuh, sikap masa bodoh dan tak menghiraukan apapun yang terjadi disekelilingnya.
  3. Kooperatif : sikap ingin bersahabat, ingin turut dengna petunjuk atau perintah, ingin bekerja sama dengan semua orang.
  4. Negativisme pasif : sikap menolak petunjuk atau penderita yang diberikan, tanpa alas an yang objektif.
  5. Dependen : sikap ingin menggantungkan dari secara berlebihan pada pemeriksa, atau individu lain yang memegang kekuasaan.
  6. Infantil : sikap kekanak-kanakan.
  7. Rigit : sikap kaku dan tak fleksibel, kadang-kadang sudah dekat dengan sikap negativistic.
  8. Curiga : sikap yang tak percaya, seolah-olah menyangsikan maksud baik dari pemeriksa atau orang lain, baik ucapannya maupun gerakannya.
  9. Berubah-ubah : sikap yang tak stabil, selalu berganti-ganti sikap, hal ini sering menunjukkan kegelisahan yang bersangkutan.
  10. Tegang : sikap yang tidak tenang, kadang-kadang dekat kepada sikap yang gelisah.
  11. Pasif : sikap tanpa inisiatif, menurut atau menyerah saja.
  12. Aktif : sikap yang penuh inisiatif, dan keinginan bertindak.
  13. Katalepsi : sikap yang bertahan dalam satu kedudukan saja dalam waktu yang cukup lama, sering kali aneh, tak masuk akal dan tak ada tujuannya, disebut juga Fleksibelitas cerea.
  14. Bermusushan : sikap ingin menyerang atau marah saja.
Secara subyektif gangguan perilaku dapat berbentuk sebagai :
  1. Perilaku yang dirasakan sebagai miliknya sendiri misalnya kompulsi.
  2. Perilaku yang dirasakan sebagai bukan perilakunya sendiri (The alienation of motor acts).
Misalnya experience of passivity. Pasien merasa bahwa perilakunya bukan perilakunya sendiri, melainkan dikendalikan oleh kekuatan dari luar (autochtoon). Pasien hanya menurut secara pasif.
Secara obyektif gangguah perilaku dapat digolongkan sebagai :
1.      Perilaku yang menurun (hipo)
2.      Perilaku yang berlebihan (hiper)
3.      Perilaku yang diulang-ulang
4.      Perilaku yang meniru
5.      Perilaku yang menurut berlebihan
6.      Perilaku yang menentang
1.      Perilaku yang menurun
Perilaku yang menurun dapat berbentuk sebagai :
a.       Hipokinetik : gerakan-gerakan menurun atau berkurang.
b.      Hipoaktif : diam tidak berminat mengikuti kegiatan orang lain.
c.       Stupor : gerakan dan aktivitas sangat menurun hanya diam saja seperti patung.
Stupor dapat dijumpai pada depresi berat (stupor depresi) dan pada Skizofrenia stupor kataton. Pada keadaan ini stupor kataton ada fleksibelitas cerea, dimana pasien seperti patung dan dapat diberi bentuk-bentuk yang akan dipertahankan lama oleh paisen.
2.      Perilaku yang meningkat (berlebihan)
Perilaku yang meningkat, dapat berbentuk sebagai :
a.       Gelisah (Hiperkinetik)
Hiperkinetik adalah gerakan-gerakan yang berlebihan. Pasien bergerak kesana-kesini, biasanya disertai dengan kegaduhan. Tidak ada hasil yang diperoleh dari gerakan-gerakan yang berlebihan itu.
b.      Hiperaktif
Aktivitas pasien meningkat bias disertai dengan gerakan yang meningkat atau tidak. Pada Hiperaktivitas hasil dari perilaku itu dapat dilihat (ada). 
Pada gangguan maniacal mula-mula dapat dilihat adanya hiperaktivitas, namun apabila gangguan menjadi lebih berat maka yang terlihat adalah Hiperkinetik.
c.       Gaduh gelisah katatonik (furor katatonik)
Dijumpai pada Skizofrenia kataton. Pasien memperlihatkan kegaduhan dan gerakan-gerakan berlebihan.
1.      Agresif : perilaku ekspansif yang didasari nafsu untuk menyerang (fisik maupun verbal).
2.      Impulsif : perilaku tiba-tiba tanpa pertimbangan lebih dahulu.
3.      Perilaku yang diulang-ulang
Perilaku yang diulang-ulang dapat berbentuk sebagai :
a.       Perseverasi
Pasien melakukan suatu perilaku, sudah selesai dilakukan kemudian perilakunya itu diulang-ulang.
Pada perseverasi perilaku pasien tampak bertujuan (goal directed).
b.      Stereotipi
Mengulang-ulang yang belum selesai (non-goal directed) pasien dapat menghentikan perilaku itu pabila ditegur, namun ia akan mengulang-ulang kembali. Biasanya dijumpai pada Skizofrenia kronis.
c.       Mannerisme
Mannerisme atau perilaku maneristik, adalah mengulang-ulang perilaku tertentu secara eksesif, biasanya dilakukan secara ritual seperti melakukan sesuatu seremonial.
Misalnya, setiap mau duduk pasien mengintari meja sebanyak tujuh kali lebih dulu.
d.      Kompulsi
Pasien dengan kompulsi akan mengulang suatu tindakan disertai dengan efek yang seolah-olah tidak pernah mencapai kepuasan. Ada tendensi makin lama pengulangannya makin hebat.
Termasuk ke dalam tindakan kompulsi adalah :
    1. Dipsomania     : kompulsi untuk minum terus menerus.
    2. Pyromania       : berulang-ulang bermain api (membakar).
    3. trichotymania  : berulang-ulang mencabuti rambutnya.
    4. Erotomania      : preokupasi dengan hal-hal seksual.
    5. Kleptomania    : kompulsi mencuri.
    6. Megalomania   : kompulsi mencari kekuasaan.
    7. Poriomania      : kompulsi untuk mngembara (keluyuran).
    8. Nimfomania    : kompulsi bersanggama yang berlebihan pada wanita.
    9. Satiriasis          : kompulsi bersanggama yang berlebihan pada pria.
4.      Perilaku yang meniru
Perilaku yang dilakukan orang lain, ditirukan pasien secara spontan tanpa disadari maksud tertentu.
a.       Echolalia
Secara spontan menirukan bunyi atau suara atau ucapan yang didengar dari orang lain. Seolah-olah seperti membeo.
Latah adalah salah satu bentuk echolalia yang terjadi pada orang yang dukejutkan mendadak. Pada Skizofrenia terjadi karena pada saat itu pasien tidak dapat melakukan apa-apa kecuali hanya menirukan apa yang ia dengar saat itu.
b.      Echopraxia
Secara spontan menirukan gerakan orang lain.
5.      Perilaku yang menurut berlebihan
a.       Command automatism
Secara ototmatis menurut perintah yang diberikan walaupun perintah itu tidak masuk akal ( aneh).
b.      Fleksibelitas cerea
Fleksibelitas seperti lilin.
Mempertahaqnkan sikap atau bentuk ataupun posisi yang diberikan padanya.
6.      Perilaku yang menentang (melawan)
Memberikan kesan yang menentang perintah yang diberikan. Tidak melakukan perintah atau melakukan yang berlawanan dari yang diperintahkan kepadanya.
Perilaku menentang ini, antara lain :
a.       Mutisme
Membisu, tidak mau berbicara sama sekali. Pada mutisme, dipastikan bahwa pasien sebelumnya tak ada gangguan berbicara.
Pada orang yang normal atau neurotic, mutisme merupakan ungkapan perlawanan terhadap perintah. Pada Skizofrenia, mutisme tanpa disertai perasaan menetang.
b.      Negativisme
Negativisme berarti sikap atau tindakan yang berlawanan dengan yang diperintahkan kepadanya.
1.      Negativisme pasif
Mengadakan perlawanan secara pasif dengan tidak melakukan apa-apa dalam upaya menentang perintah.
Misalnya pasien diam saja walaupun di perintah.
2.      Negativisme aktif
Melakukan perilaku yang berlawanan dengan apa yang diperintahkan kepadanya. Misalnya diperintahkan untuk berdiri, ia malahan duduk, diminta duduk malahan berdiri.
                                                                                                            
2. TEORI YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
Teori Behaviorisme
Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang member respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus).
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme
1.      Obyek psikologi adalah tingkah laku
2.      Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek
3.      Mementingkan pembentukan kebiasaan
Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949))
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)
Teori pelaziman klasik Adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Skinner (1904-1990)
Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
3.  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MANUSIA
Ada dua macam psikologi sosial.
1.      Psikologi sosial dengan huruf P besar
2.      psikologi sosial dengan huruf S besar
Kedua pendekatan ini menekankan faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor sosial. Atau dengan istilah lain faktor-faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal), dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar individu (faktor environmental).
McDougall menekankan pentingnya faktor personal dalam menentukan interaksi sosial dalam membentuk perilaku individu. Menurutnya, faktor-faktor personallah yang menentukan perilaku manusia.
Menurut Edward E. Sampson, terdapat perspektf yang berpusat pada persona dan perspektif yang berpusat pada situasi. Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia. Secara garis besar terdapat tiga faktor yaitu :
3.1  Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia. Pentingnya kita memperhatikan pengaruh biologis terhadap perilaku manusia seperti tampak dalam dua hal berikut :
1.      Telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan perngaruh lingkungan atau situasi.
2.      diakui pula adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yang lazim disebut sebagai motif biologis. Yang paling penting dari motif biologis adalah kebutuhan makan-minum dan istirahat, kebutuhan seksual, dan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya.
3.2  Faktor Sosiopsikologis
Dapat dikalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
1.      Komponen Afektif
Merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya.
  1. Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
  1. Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
3.3 Faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor-faktor situasional ini berupa :
  1. Faktor ekologis, misal kondisi alam atau iklim
  2. Faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
  3. Faktor temporal, misal keadaan emosi
  4. Suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
  5. Teknologi
  6. Faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu
  7. Lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya
  8. Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku
MOTIF SOSIOGENESIS
Motif sosiogenesis disebut juga dengan motif sekunder sebagai lawan motif primer (motif biologis). Berbagai klasifikasi motif sosiogenesis :
W.I Thomas dan Florian Znanieckci :
1.      Keinginan memperoleh pengalaman baru
2.      Keinginan untuk mendapatkan respons
3.      Keinginan akan pengakuan
4.      Keinginan akan rasa aman
David McClelland :
  1. Kebutuhann berprestasi (need for achievement)
  2. Kebutuhan akan kasih sayang (need for affiliation)
  3. Kebutuhan berkuasa (neef for power)
Abraham Maslow :
  1. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
  2. Kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs)
  3. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
  4. Kebutuhan untuk pemenuhan diri (self-actualization)
Melvin H.Marx :
  1. Kebuthan organismis :
a.       Motif ingin tahu (curiosity)
b.      Motif kompetensi (competence)
c.       Motif prestasi (achievement)
  1. Motif-motif sosial :
a.       Motif kasih sayang (affiliation)
b.      Motif kekuasaan (power)
c.       Motif kebebasan (independence)
Motif sosiogenesis dapat dijelaskan dibawah ini :
1.      Motif ingin tahu : mengerti menata dan menduga. Setiap orang berusaha memahami dan memperoleh arti dari dunianya.
2.      Motif kompetensi : setiap orang ingin membuktikan bahwa ia mampu mengatasi persoalan kehidupan apapun
  1. Motif cinta : sanggup mencintai dan dicintai adalah hal esensial bagi pertumbuhan kepribadian.
  2. Motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas : erat kaitannya dengan kebutuhan untuk memperlihatkan kemampuan dan memperoleh kasih sayang, ialah kebutuhan untuk menunjukan eksistensi di dunia ini.
  3. kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna hidup : Dalam menghadapi gejolak kehidupan, manusia membutuhkan nilai-nilai untuk menuntunnya dalam mengambil keputusan atau memberikan makna pada kehidupannya.
  4. Kebutuhan akan pemenuhan diri : Kita bukan saja ingin mempertahankan hidup, kita juga ingin meningkatkan kualitas kehidupan diri kita; ingin memenuhi peotensi-potensi kita.
KONSEPSI MANUSIA DALAM PSIKOANALISIS
Menurut Freud perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsitem dalam kepribadian manusia :
  1. Id
Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat manusia hewani.
  1. Ego
Ego berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas dunia luar. Ego adalah mediator anatara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego dapat menundukan manusia terhadap hasrat hewaninya.
  1. Superego
Superego adalah polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani (conscience) yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan ke alam bawah sadar.
Dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (ego), dan komponen sosial (superego).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *