5 Langkah Menyucikan Emosi Dengan Memaafkan

Terkadang kita sampai pada suatu keadaan dimana masing-masing dari kita merasakan sebagai yang bersalah , maka akan timbul saling pengertian. Kemudian bisa saling memaafkan, bukankah hal ini menjadi peristiwa yang indah? Bila kita mampu mengerti dan menyadari kesalahan masing-masing, maka akan tercipta penyelesaian yang indah atas suatu masalah.

Tidak dipungkiri, masalah yang cukup berat adalah kemauan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Berat ringannya keiklasan untuk memaafkan terkait dengan besar kecilnya rasa kesal, atau dendam kita terhadap seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan, kebencian, dan permusuhan kita pada seseorang, maka semakin berat pula kerelaan kita untuk memaafkan.

Secara psikologis, yang mendapatkan keuntungan dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan, bukan yang dimaafkan. Secara psikologis, bukankah benci itu suatu beban yang memberatkan kita? Rasa benci itu juga bagaikan luka. Bila kebencian kita pelihara, sama saja kita memelihara luka diri. Dan bila kebencian telah berubah menjadi dendam yang menuntut balas, maka luka itu semakin kita perdalam dan semakin perih kita rasakan sebelum dendam terlaksana. Namun ketika dendam telah terlaksana, benarkah luka atau beban yang berat dipikul kemana-man tadi akan hilang? Pengalaman mengatakan: “tidak”, dan permusuhan akan meningkat, yang berarti semakin dalam kita menyayat kulit hati yang telah luka dan perih tadi. Bukankah itu semakin sakit?

Memafkan sesungguhnya merupakan terapi jitu untuk kesehatan. Bagaimana tidak? Begitu kita memafkan orang, maka beban berkurang, luka membaik. Dan bila benci serta dendam telah hilang sams sekali dari hati kita, maka betapa sehat dan ringannya kita menjalani hidup ini.

Orang yang memelihara kebencian sama halnya memelihara penyakit. Jadi benar adanya jika pribadi pemaaf itu membuat badan kita sehat. Apabila kita sudah terpola untuk ikhlas dan saling memaafkan, maka suasana psikologis kita menjadi bersih.

5 Langkah Menyucikan Emosi Dengan Memaafkan!!

  1. Cari tempat untuk menyendiri
    Langkah pertama adalah mencari tempat tenang untuk memberi waktu bagi diri sendiri tanpa gangguan orang lain. Tak perlu tempat yang jauh. Anda bisa menemukannya di dalam rumah. Sebagian orang memilih kamar mandi sebagai tempat paling tepat untuk menyendiri. Karena di sana lah ia bisa memikirkan dirinya, dan meminimalisasi gangguan dari campur tangan pihak lain. Anda juga bisa memilih kamar lain di dalam rumah dimana tak ada satupun orang berani masuk ke dalamnya.
  2. Tenangkan diri
    Setelah menemukan tempat tenang dan memastikan tak akan ada gangguan, mulailah menenangkan diri. Fokuslah pada diri sendiri dengan menutup mata dan tak usah pikirkan lagi apa yang telah terjadi dan memicu emosi Anda. Cara menenangkan diri, setelah menutup mata, tariklah nafas mendalam dan keluarkan perlahan. Ulangi hingga 10 kali.
  3. Jujurlah pada diri sendiri
    Menenangkan diri dengan mengatur nafas membuat tubuh lebih rileks. Fokuslah pada diri sendiri dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri. Jawab dengan jujur pertanyaan ini:

    • Siapa saya?
    • Apa yang ada di tubuh saya?
    • Apa yang saya pikirkan?
    • Dari mana pikiran saya berasal?
    • Apa yang saya rasakan dan mengapa saya merasa seperti ini?

    Jika Anda menjawab pertanyaan di atas dengan jujur, Anda bisa fokus kepada sikap memaafkan. Mengapa? Karena ketika Anda sudah sangat sadar atas diri Anda sendiri, Anda lebih mampu mengendalikan keadaan, termasuk saat sedang emosi atau bahkan tersakiti. Rumusnya adalah, Anda perlu mengenali dan memahami diri sendiri sebelum memaafkan.

  4. Berikan maaf kepada orang yang menyakiti anda
    Langkah tersulit pada tahapan ini adalah mengatakan “Saya memaafkan kamu”. Mengatakan hal ini tidak mudah tetapi harus Anda lakukan untuk melepaskan diri dari jeratan emosi negatif dan menjadi stres karenanya. Anda harus menghancurkan jeratan tersebut agar pikiran, tubuh dan jiwa Anda terbebaskan. Teknik membebaskan diri dari emosi negatif adalah dengan mengatakan “Saya memaafkan kamu” sebanyak tiga kali begitu Anda merasa emosi. Meskipun Anda merasa bukan sebagai pihak yang bersalah, Anda tetap perlu mengatakan “Saya memaafkan kamu” di hadapan orang lain, atau hanya pada diri sendiri. Dengan begitu, Anda memberikan ruang pada diri untuk bebas dari emosi negatif dan memberikan kesempatan untuk bahagia dan menikmati kehidupan Anda selanjutnya.
  5. Melatih tersenyum
    Anda akan mendapatkan ketenangan dan keharmonisan dalam diri dengan melatih diri untuk memaafkan. Melatih pernafasan,kontrol diri dengan empat cara di atas tadi, membuat Anda lebih kuat secara emosional. Anda mampu menaklukkan masalah apapun dan kapanpun juga. Apapun situasinya, Anda mampu menghadapi dengan tenang dan senyuman. Percayakan diri Anda untuk melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *