IMF Salah Analisis Ekonomi Indonesia

IMF IMF Salah Analisis Ekonomi IndonesiaEC-Think Indonesia menyatakan Dana Moneter Internasional (IMF) salah dalam menganalisa ekonomi Indonesia. Kesalahan analisis IMF diyakini akan berdampak pada salah kebijakan dan memuncul gangguan kebijakan ekonomi makro yang kontra-produktif apabila pemerintah menjadikannya acuan.

Macro Economic Spesialist EC-Think Telisa Aulia Falianty menjelaskan dalam kajiannya yang diterbitkan pada April 2011, IMF menyimpulkan bahwa perekonomian Indonesia, bersama dengan Argentina, Brasil dan India, mengalami pemanasan berlebihan (over-heating). Hasil kajian IMF, tersebut, katanya, menyimpulkan bahwa Indonesia, termasuk emerging countries, perlu memperketat kebijakan ekonominya dengan menghapuskan akomodasi moneter, seperti kebijakan memperketat pertumbuhan kredit KPR.
“Secara teoritis, perekonomian mengalami overheating jika output beroperasi melebihi output potensialnya, sehingga menimbulkan tekanan kepada harga-harga untuk naik. Namun, bila inflasi lebih banyak didorong oleh faktor eksternal tidak dapat dijadikan indikasi terjadinya overheating,” ujar Telisa di Jakarta pekan ini.
Lebih lanjut Telisa menjelaskan IMF menggunakan empat indikator dalam membuat analisis overheating, yaitu output relatif terhadap tren, output gap, pengangguran dan inflasi. Data IMF, katanya, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di banyak negara emerging market sudah mecapai 2.5 % di atas tren sebelum krisis global (1997-2006).
Begitu juga dengan pengangguran, yang berada di bawah tingkat sebelum krisis. Sedangkan headline inflation sudah sekitar 1.25% di atas level sebelum krisis. Demikian pula inflasi inti (core inflation) telah meningkat menjadi 3.75% (dibanding periode sebelum krisis sebersar 2%) dan terus menunjukkan tekanan yang semakin membesar.
“Jadi, seandainya benar IMF menggunakan keempat indikator di atas untuk mendeteksi overheating, maka jelas sekali tidak adanya keterkaitan yang kuat antara konsep overheating dengan indikator yang digunakan. Yang lebih parah adalah ketika IMF mengukur tingkat pengangguran dengan membandingkannya dengan rata-rata pengangguran 2002-2007. Kalau ini dipakai sebagai indikator, maka sama saja dengan menyarankan tingkat pengangguran yang sesuai dengan keseimbangan ekonomi makro adalah yang tinggi,” tukasnya.
IMFjuga dinilai tidak memahami pola pergerakan inflasi di Indonesia apabila dilihat dari indikator tekanan inflasinya. Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan target inflasi dinilai tidak bisa dijadikan dasar sebagai inflasi keseimbangan umum (general equilibrium inflation). Menurutnya target inflasi di Indonesia tidak ditetapkan berdasarkan tingkat inflasi pada keseimbangan full employment. Target tersebut dipastikan hanya ditetapkan melalui konsesus saja.
Telisa menyatakan indikator-indikator yang biasa digunakan untuk memberikan sinyal overheating adalah Output gap positif yang berarti output aktual melebihi output potensial, Unemployment aktual berada di bawah tingkat pengangguran alamiah, Inflasi melebihi inflasi rata-rata, Current account defisit (Stiglitz, 2010) dan Akselerasi pertumbuhan kredit.
CEO EC-Think Imam Sugema mengklaim bahwa IMF melakukan penyimpulan yang sangat ceroboh. Hal itu dilihat dari kesalahan analisa terhadap konsepnya, dimana overheating disebabkan peningkatan inflasi meningkat secara internal, bukan eksternal (tradable goods).
Oleh karena itu dia mengatakan sangat sulit Indonesia mengalami overheating karena faktor internalnya juga sangat sulit untuk mendorong inflasi. Dia menyarankan agar pemerintah tidak perlu merespon kesimpulan IMF dengan rekomendasi yang disarankannya untuk memperketat kebijakan moneter dan fiskal, karena ekonomi domestik belum mengalami overheating.
“Yang justeru terjadi adalah semakin jauhnya agregat demand dari kapasitas produksi yag kami punyai. Kesimpulan mengenai perekonomian Indonesia mengenai overheating seperti kajian IMF, tidak terbukti. Jika pemerintah meresponsnya dengan melakukan kebijakan diskresioner yang terlalu ketat seperti disarankan IMF, dikhawatirkan malah akan mengganggu stabilitas perekonomian,” pungkasnya. (BN10).
4203983314102945676 8961642492432100049?l=www.developmenteconomic IMF Salah Analisis Ekonomi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *