Penetuan Harga Perolehan Aktiva Tetap

Penetuan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Agar sejalan dengan prinsip akutansi yang lazim, aktiva tetap harus dicatat sebesar harga perolehannya harga perolehan meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan aktiva, dan pengeluaran-pengeluaran lain agar aktiva siap digunakan. Sebagai contoh, harga beli mesin, biaya pengangkutan mesin yang dibayar pembeli, dan biaya pemasangan mesin adalah bagian dari harga perolehan mesin pabrik yang dibeli perusahaan. Pengeluaran lain yang tidak diperlukan harus dipandang sebagai biaya atau kerugian.
Harga perolehan diukur dengan kas yang dibayarkan pada suatu transaksi secara tunai. Dalam hal aktiva tidak dibayar dengan kas, maka harga perolehan ditetapkan sebesar nilai wajar dari aktiva yang diperoleh atau diserahkan,yang mana  yang lebih banyak berdasarkan bukti atau data yang tersedia. Apabila harga perolehan telah ditetapkan, maka harga perolehan tersebut akan menjadi dasar untuk akutansi selama masa pemakaiaan aktiva yang bersangukutan. Akutansi tidak mengakui pemakaiaan harga pasar atau harga pengganti selama suatu pemakaiaan suatu aktiva tetap.
       Tanah
Semua pengeluaran tanah meliputi
·        Harga beli tunai tanah
·        Biaya balik nama
·        Komisi perantara
·        Pajak atau pungutan lain yang harus dibayar oleh pembeli
Sebagai contoh, misalkan harga tunai tanah adalah Rp 5.000.000,- dan pembeli setuju untuk membayar pakjak bumi dan bangunan ( PBB ) yang belum dibayar oleh pemilik lama sebesar Rp 100.000,- , maka harga perolehan tanah akan menjadi Rp 5.100.000,-
Semua pengeluaran lain yang diperlukan agar tanah siap untuk digunakan yang bersifat perbaikan permanen didebet ke rekening tanah. Seandainya tanah yang dibeli tidak rata, berbatu-batu atau penuh dengan tanaman liar, maka harga perolehan tanah akan meliputi juga pengeluaran untuk pembersihan dan peralatan tanah. Kadang-kadang di atas tanah yang dibeli terdapat bangunan yang tidak dapat dilakukan pembeli sehingga harus dibongkar, agar tanah dapat digunakan sesuai dengan maksud pembeli. Dalam hal seperti itu, pengeluaran untuk membongkar bangunan dikurangi dengan hasil penjualan sisa bongkaran, harus dibebankan juga pada rekening tanah. Sebagai contoh, misalkan sebuah PT. Ardi Jaya membeli sebidang tanah dengan harga tunai Rp. 80.000.000,-. Di atas atas tanah tersebut terdapat sebuah gudang tua yang membutuhkan pengeluaran bersih untuk membongkarnya sebesar Rp. 6.000.000,- (pengeluaran sesunguhnya Rp. 7.500.000,- dikurangi hasil penjualan sisa bongkaran Rp. 1.500.000,-. Pengeluaran lain terdiri dari  biaya balik nama Rp. 1.000.000,- dan komisi perantara Rp. 8.000.000,-. Berdasarkan data tersebut, harga perolehan tanah akan menjadi Rp. 115.000.000,- dengan perhitungan sebagai berikut:   
Harga Perolehan Tanah :Harga tunai tanah                     Rp. 80.000.000,-
                                                 Pembongkaran gudang Rp.   6.000.000,-
                                                 Biaya balik nama                     Rp.       900.000,-
                                                 Komisi perantara                     Rp.    7.000.000,-.
                                                                                                Rp.  93.900.000,-
Berikut ini jurnalnya:
                        Tanah                           Rp.  93.900.000,-       
                                    Kas / hutang Dagang                 Rp.  93.900.000,-
       Perbaikan Tanah
Harga perolehan perbaikan tanah meliputi semua pengeluaran yang dilakukan sampai perbaikan siap untuk digunakan sebagaimana dimaksud dengan perbaikan tersebut . Sebagai contoh, harga perolehan tempat parkir kendaraan yang baru dibangun, meliputi semua pengeluaran untuk pengerasan dan pengaspalan, saluran air dan pembuatan fasilitas penerangan, serta pemagaran di seputar wilayah tempat parkir. Perbaikan tanah agar dapat digunakan sebagai sebagai temapat parkir diatas, mempunyai masa pemakaiaan yang terbatas, sebab dalam waktu beberapa tahun akan rusak karena dipakai atau dimakan usia. Oleh karena itu, pengeluaran-pengeluran diatas didebetkan ke rekening perbaikan tanah ( bukan pada rekening tanah ) dan akan susut selama umur pemakaiaan aktiva ini.
       Gedung
Semua pengeluaran yang berhubungan dengan pembelian dan pembangunan sebuah gedung harus dibebankan pada rekening gedung. Apabila gedung dimiliki melalui pembelian, maka harga perolehannya meliputi harga beli, biaya notaries, komisi perantara. Namun seandainya gedung dibangun sendiri, maka harga perolehannya meliputi semua pengeluaran untuk membuat gedung, termasuk saluran listrik dan air.
Apabila perusahaan membuat bangunan yang membutuhkan fasilitas tertentu, seperti misalnya PT. Fajar Motor membuat bangunan untuk servis dan cuci kendaraan, maka harga perolehan gedung meliputi harga kontrak bangunan ditambah biaya perencanaan oleh arsitek, biaya untuk memperoleh ijin mendirikan bangunan (IMB), termasuk pula pembuatan fasilitas pencucian. Selain itu, biaya buang selama masa pembangunan (konstruksi) juga harus ditambahkan pada harga perolehan bangunan, apabila: (1) masa pembangunan mencakup periode waktu yang cukup panjang dan (2) beban bunga cukup besar jumlahnya. Dalam hal demikian, bunga biaya dapat dipandang sebagai biaya yang diperlukan seperti halnya biaya bahan dan tenaga kerja. Namun hendaknya diingat, bahwa biaya bunga diperhitungkan sebagai harga perolehan gedung hanya selama periode pembangunan. Setelah pembangunan selesai, maka pembayaran bungaatas dana yang dipinjam untuk pembangunan tersebut, harus dibebankan sebagai biaya bunga.
Peralatan / Mesin Pabrik
Harga perolehan peralatan terdiri dari harga beli tunai, biaya pengangkutan dan biaya asuransi selama dalam pengangkutan yang dibayar oleh pembeli. Termasuk pula di dalamnya pengeluaran untuk perakitan, pemasangan dan pengujian peralatan yang dibeli. Biaya balik nama kendaraan juga harus ditambahkan pada harga perolehan kendaraan, tetapi pajak kendaran tahunan atau asuransi kecelakaan kendaran yang harus yang dibayar pemilik, tidak dibebankan sebagai harga perolehan, melainkan diperlakukan sebagai biaya tahun yang bersangkutan. Pembayaran untuk perbaikan kerusakan dalam pengangkutan dan biaya perakitan  atau pemasangan yang dipandang tidak diperlukan, tidak dimasukkan sebagai harga perolehan, melainkan sebagai biaya atau kerugian.
Masalah Khusus Dalam Penentuan harga Perolehan Serta Pembahasannya
Penentuan harga perolehan aktiva tetap, kadang-kadang tidak sederhana karena adanya bebbagai masalah. Masalah tersebut biasanya muncul  karena cara perolehan aktiva. Beberapa cara perolehan yang menimbulkan maslah antara lain:
1.      Pembelian dengan Menggunakan Wesel Berbunga
Dalam pembelian aktiva, terutama dalam pembelian yang mencakup jumlah rupiah yang cukup besar, kadang-kadang perusahaan membayarnya dengan menggunakan weswl berbunga. Cara seperti ini  banyak dijumpai dalam pembelian rumah, kendaraan dan mesin-mesin pabrik. Biasanya pembeli diwajibkan membayar uang muka (down payment) sejumlah tertentu dan sisanya dibayar dengan menggunakan wesel ditambah bunga dengan persentase tertentu. Bunga wesel biasanya dibayar pada tanggal jatuh  wesel. Dalam hal seperti ini, harga perolehan aktiva adalah jumlah kas yang dibayarkan sebagai uang muka ditambah dengan nilai nominal wesel. Biaya bungan wesel yang dibayar perusahaan merupakan biaya pendanaan (financing cost) dan dicatat dalam pembukuan dengan mendebet rekening Biaya Bunga.
Contoh : PT Fajar membeli peralatan pabrik dengan harga tunai Rp.12.000.000,- dengan uang muka Rp 2.000.000,- dan sisanya dibayar dengan wesel bernilai Rp 10.000.000,- jangka waltu 1 tahun dan tingkat bunga 10 %
Berikut ini jurnalnya:
         Peralatan pabrik                                      Rp.12.000.000,-
                    Kas                                                          Rp   2.000.000,-
                    Utang wesel                                              Rp 10.000.000,-
         Utang wesel                                            Rp 10.000.000,-
         Biaya bunga                                          Rp.     100.000,-
                    Kas                                                          Rp. 10.100.000,-
2.   Pembelian dalam Suku Paket
Pembelian dalam satu paket (sering disebut pembelian secara lump-sum), terjadi bila beberapa jenis aktiva dibeli secara bersama dalam satu transaksi. Peristiwa seperti ini misalnya terjadi jika perusahaan membeli sebuah pabrik yang sudah tidak digunakan lagi oleh perusahaan lain. Pembelian pabrik ini meliputi tanah, gedung, mesin-mesin dan mebel. Apabila terjadi pembelian secara paket, maka harga beli borongan (paket) harus dialokasikan ke berbagai jenis aktiva. Cara yang paling umum untuk mengalokasikan harga borongan adalah dengan mendasarkan pada harga pasar masing-masing golongan aktiva yang tercakup dalam pembelian tersebut.
Contoh : PT. MADANI yang bergerak dalam bidang penginapan vila, pada tanggal 15 April 2010 membeli sebuah vila dari perusahaan lain dengan harga tunai Rp. 80.000.000,-. Pengalokasiam harga beli dengan menggunakan harga pasar masing-masing golongan aktiva adalah sebagai berikut:
Golongan
Harga pasar
% tase dari harga pasar
Perhitungan % dari harga beli
Alokasi Harga perolehan
Tanah
20.000.000,-
20 %
20 % × 80 jt
16.000.000,-
Gedung
70.000.000,-
70 %
70 % × 80 jt
56.000.000,-
Peralatan
10.000.000,-
10 %
10 % × 80 jt
8.000.000,-
100.000.000,-
80.000.000,-
Berikut ini Jurnalnya :
                       
            Tanah                          Rp. 16.000.000,-
            Gedung                        Rp. 56.000.000,-
            Peralatan                      Rp.   8.000.000,-
                                    Kas / Hutang Dagang                   Rp. 80.000.000,-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *