AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUD

Secara umum, akutansi untuk aktiva tak berujud adalah sejalan dengan akutansi untuk aktiva tetap. Seperti halnya aktiva tetap, aktiva berujud juga dicatat atas harga dasar harga perolehan dan harga perolehan ini dihapus secara rasuonal dan sistematis selama masa manfaat aktiva tak berujud tersebut. Jika pada suatu saat dihentikan, maka nilai buku aktiva tak berujud dihapuskan dari pembukuan dan dicatat pula laba atau rugi penghentian (jika ada).
Namun demikian, terdapat sejumlah perbedaan antara akutansi aktiva tak berujud bila dibandingkan dengan akutansi aktiva tetap. Pertama, istilah yang digunakan untuk menghapus aktiva tak berujud adalah amortisasi (bukan depresiasi). Untuk mencatat amortisasi aktiva tak berujud maka rekening Biaya Amortosasi didebet dan rekening aktiva tak berujud yang bersangkutan dikredit. Alternatif lain, bisa juga dikredit rekening Akumulasi Amortisasi, seperti halnya akumulasi depresiasi pada aktiva tetap. Namun sebagian besar perusahaan memilih cara yang sederhana, yaitu dengan langsung mengkredit rekening aktiva tak berujud. Perbedaan kedua ialah bahwa periode amortisasi suatu aktiva tak berujud tidak boleh melebihi 40 tahun. Sebagai contoh, jika masa manfaat suatu aktiva tak berujud adalah 60 tahun, maka amortisasinya harus dilakukan 40 tahun. Akan tetapi jika masa menfaat aktiva tak berujud kurang dari 4 tahun, maka masa manfaat itulah yang akan digunakan. Aturan tesebut dimaksudkan untuk menjaga agar semua aktiva tak berujud, terutama yang tidak ketentuan masa manfaatnya, dihapus dalam periode waktu yang wajar.
Berbeda dengan aktiva tetap, amortisasi aktiva tak berujud hanya mengenal satu metoda, yaitu metoda garis lurus. Oleh karena itu, perlakuan akutansi aktiva tak berujud pada berbagai perusahaan relatif mudah diperbandingkan.
AKTIVA TIDAK BERUJUD
Aktiva tak berujud adalah hak, hak istimewa dan keuntungan kompetitif yang timbul dari pemilikan suatu aktiva yang berumur panjang, yang tidak memiliki wujud fisik tertentu. Bukti pemilikan aktiva tak berujud bisa berupa kontrak, lisensi atau dokumen lain. Aktiva tidak berujud mungkin timbul dari:
  1. Pemerintah – seperti hak paten, hak cipta, franchise, merek dagang dan nama dagang.
  2. Perusahaan lain – misalnya pembelian yang mencakup pembayaran untuk goodwill.
  3. Penjualan tertentu – seperti franchise dan lease.
Masalah Aktiva Tak Berwujud dan Pembahasan
Hak Paten
Hak paten adalah hak istimewa yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memberikan kewenangan kepada pemegang hak untuk memproduksi, menjual dan mengawasi penemuannya dalam jangka waktu tertentu sejak hal tersebut diberikan. Suatu hak paten biasanya tidak dapat diperbaharui, jangka waktunya bisa diperpanjang dengan memberikan hak paten yang baru, apabila terdapat perbaikan atau perubahan pada rancangan dasar penemuan yang lama.
Harga perolehan suatu aktiva-aktiva tak berujud adalah kas (atau ekulivalensinya) yang dibayarkan untuk mendapatkan hak paten. Hak paten seolah-olah diberi oleh pemerintah. Dengan adanya hak ini, pemegang hak paten menjadi terlindung dari kemungkinan adanya pelanggaran oleh pesaing. Perlindungan dari pesaing sangat berguna bagi perusahaan dalam mengamankan upaya memperoleh laba melalui penjualan barang atau jasa. Itulah sebabnya perusahaan yang berhasil menemukan suatu produk baru, tidak segan-segan untuk mengeluarkan sejumlah uang demi memperoleh hak paten dari pemerintah, agar pohak lain (pesaing) tidak dibenarkan untuk memproduksi danmenjual temuan baru tersebut. Pengeluaran untu memperoleh hak paten dicatat dalam rekening Hak Paten (atau sering disingkat Paten) dan diamortisasi selama masa tertentu.
Harga perolehan hak paten harus diamortisasi selama masa berlaku hak tersebut atau selama masa manfaatnya, tergantung mana yang lebih pendek. Dalam menentukan masa manfaat, perusahaan harus mempertimbangkan kapan penemuan diperkirakan akan mulai ketinggalan jaman, atau tidak memadai lagi dan faktor-faktor lainnya yang menyebabkan hak paten menjadi tidak ekonomis lagi sebelum akhir masa berlaku hak tersebut. Untuk memberikan gambaran mengenai perhitungan biaya paten, misalnya PT Erwin Megah membeli hak paten dengan harga perolehan Rp. 60.000.000,00. Masa manfaat hak tersebut diperkirakan 8 tahun. Dengan demikian amortisasi per tahun adalah Rp. 7.500.000,0 (Rp. 60.000.000,0 : 8). Jurnal untuk mencatat amortisasi tahunan adalah sebagai berikut.
Des 31        Biaya Paten ……………………………..  Rp.  7.500.000
                           Hak Paten …………………………            Rp. 7.500.000
                  ( untuk mencatat amortisasi hak paten )
Biaya paten dikelompokan dalam laporan rugi-laba sebagai biaya operasi.
Hak Cipta  
Hak cipta adalah hak yang diberikan oleh pemerintah, yang memberikan hak istimewa kepada pemegang hak tersebut untuk memproduksi dan menjual suatu karya seni atau karya tulis. Harga perolehan suatu hak cipta terdiri dari pengeluaran untuk mendapatkan dan mempertahankan hak tersebut.
Maka manfaat suatu hak cipta biasanya lebih pendek daripada masa berlakunya. Mengingat sulitnya penentuan masa manfaat suatu hak cipta, maka hak cipta biasanya diamortisasi dalam periode waktu yang relatif pendek.
Merek Dagang dan Nama Dagang
Merek dagang atau nama dagang adalah kata, rangkain kata, logo, atau simbol yang membedakan atau memberi identitas suatu perusahaan tertentu atau produk tertentu.Apabila kita mendengar nama dagang seperti Lux, Pepsodent, Indomie, atau Coca Cola, dengan cepat terbayang dalam pikiran kita produk apa yang dimaksud dan tidak akan salah mengartikannya pada produk lain. Nama dagang mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perusahaan dan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pemasarannya. Penemu atau pemakai pertama dapat memperoleh hak istimewa untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang atau mendaftarkannya pada pemerintah.
Apabila merek dagang atau nama dagang dibeli, maka harga perolehan hak tersebut adalah harga belinya.Apabila dikembangkan sendiri oleh perusahaan, maka hara perolehan meliputi biaya hukum, biaya pendaftaran, biaya perancangan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang langsung berhubungan dengan perolehan hak tersebut.
Seperti halnya aktiva tak berujud lainnya, hak merek harus diamortasikan selama masa manfaat atau masa berlakunya, tergantung mana yang yang lebih pendek. Mengingat sulitnya penentuanmasa manfaat suatu hak merek, biasanya dtetapkan jangka waktu yang relatif pendek.
Franchise dan License
Bila Kita makan di Kentucky Fried Chicken, California Fried Chicken, Mac Donald, atau Pizza Huts, maka disitu kita menemukan franchise. Franchise adalah perjanjian (kontrak) antara pemberi (franchisee). Dalam perjanjian tersebut, franchisor memberi hak kepada franchisee untuk menjual produk tertentu, atau untuk memberikan suatu jasa tertentu, atau untuk menggunakan merek dagang atau nama dagang tertentu, biasanya dalam suatu wilayah tertentu.
Jenis franchise yang lain biasanya melibatkan pemerintah daerah (misalnya Walikota) dengan perusahaan swasta, berupa pemberian ijin kepada perusahaan untuk menggunakan kekayaan Negara dalam operasi perusahaan tersebut. Sebagai contoh, pemerintah memberi ijin kepada perusahaan swasta untuk menggunkan jalan-jalan dalam kota untuk operasi bus atau taxi, ijin menggunakan laut atau TV swasta. Ijin operasi seperti itu disebut lisensi.
Franchise dan lisensi bisa diberikan untuk waktu terbatas, atau terbatas dengan kemungkinan perpanjangan waktu, atau tidak terbatas. Harga perolehan suatu hak franchise dan lisensi adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan hak tersebut. Bila jangka waktunya terbatas, maka harga perolehan suatu hak franchise dan lisensi adalah semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapatkan hak tersebut. Bila jangka waktunya terbatas, maka harga perolehan franchise (atau lisensi) harus diamortasi sebagai biaya operasi selama jangka waktu ijin pengeoprasianhak tersebut. Namun apabila jangka waktunya tidak terbatas, maka amortisasi dilakuakn selama jangka waktu ijin pengoprasian hak tersebut. Namun apabila jangka waktunya tidak terbatas, maka amortisasi dilakukan selama jangka waktu yang ditentukan dengan taksiran yang wajar. Jika dalam jangka perjanjian franchise tesebut pihak pemegang hak diwajibkan membayar secara tahunan, maka pembayaran tersebut diperlakukan sebagai biaya operasi pada periode dilakukan pembayaran.
Biaya Operasi
Biaya yang timbul dalam bentukan suatu organisasi perusahaan tersebut biaya organisasi. Biaya tersebut meliputi pengeluaran untuk biaya jasa yang dibayarkan kepada underwriters untuk pengurusan saham dan obligasi, biaya pengurusan ijin dan akte pendirian dan biaya promosi untuk pengenalan kepada organisasi kepada masyarakat. Biaya-biaya tersebut dikapitalisasi sebagau aktiva tak berujud dengan nama Biaya Organisasi. Sebenarnya biaya organisasi akan bermanfaat selama hidup perusahaan, tetapi dalam praktik perusahaan menetapkan masa manfaat dengan taksiran tertentu yang dianggap wajar. Seperti halnya aktiva tak berujud lainnya, biaya organisasi juga diamortisasi selama jangka waktu tertentu.
Goodwill
Aktiva tak berujud terbesar yang biasanya nampak dalam neraca perusahaan adalah goodwill. Goodwill adalah segala atribut yang memberi nilai atau citra yang menguntungkan yang melekat pada suatu perusahaan. Dalam hal ini termasuk diantaranya: manajemen yang istimewa, lokasi yang strategis, hubungan baik dengan para konsumen, karyawan yang terlatih, produk dengankualitas tinggi, hubungan yang harmonis dengan para karyawan. Hal-hal yang positif seperti ini apabila dimiliki perusahaan, akan menaikkan nilai perusahaan. Semakin banyak hal positif yang dimiliki perusahaan, maka akan bertambah semakin tangguh pula perusahaan itu. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa goodwill mencerminkan keuntungan yang diharapkan diatas keuntungan normal. Oleh karena itu goodwill merupakan suatu aktiva tak berujud yang berbeda dari aktiva tak berujud lainnya. Goodwill tidak bisa dijual tanpa mengalihkan atau menjual perusahaannya, karena goodwill hanya dapat diindetifikasi dengan perusahaan sebagai keseluruhan.
Persoalan yang timbul apabila goodwill hanya dapat diindetifikasi dengan perusahaan secara keseluruhan adalah bagaimana menentukan besarnya goodwill tersebut. Berbagai faktor seperti disebutkan di atas (manajemen yang istimewa, lokasi yang strategis dan sebagainya) banyak ditemukan pada berbagai perusahaan, tetapi menentukan besarnya goodwill sangat sulit dan sangat subyektif. Hal ini mudah dimengerti, karena penentuan goodwill tanpa melalui transaksi pertukaran akan menyebabkan penilain menjadi subyektif dan laporan keuangan menjadi kurang dapat dipercaya. Oleh karena itu, goodwill akan hanya dicatat apabila timbul dari transaksi pertukaran yang meliputi pembelian perusahaan secara keseluruhan.
Penentuan Harga Pasar Aktiva yang Diperoleh
Penentuan harga secara keseluruhan dibeli, maka goodwill adalah kelebihan harga perolehan di atas harga pasar aktiva bersih (aktiva dikurangi utang) yang diperoleh. Dalam menentukan besarnya goodwill, harga beli (harga perolehan) pertama-tama dibandingkan dengan harga pasar aktiva dan utang yang diperoleh. Kelebihan harga beli di atas harga pasar aktiva bersih itulah yang disebut goodwill. Sebagai contoh, pada tanggal 31 Desember 2009, Usaha Dagang Graha Cipta Lestari memutuskan untuk membeli perusahaan dagang Borneo Makmur (sebuah perusahaan perseorangan) dengan harga Rp. 61.000.000,00. Pengkajian atas neraca perusahaan Borneo Makmur menunjukkan hal-hal berikut:
PERUSAHAAN DAGANG BORNEO MAKMUR
Neraca
31 Desember 2010
clip image001 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUD 

Kas                                   Rp 2.000.000        Utang Wesel                    Rp  9.500.000
Piutang dagang  ( neto )         6.400.000        Utang Dagang                        1.500.000
Persediaan                              5.600.000        Modal, Bambang                 32.500.000  
clip image002 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUDAktiva tetap ( neto )             29.000.000                                                
clip image003 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUDclip image004 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUD                                        Rp 43.000.000                                                Rp 43.000.000
                                         
Aktiva bersih perusahaan dagang Borneo Makmur adalah RP. 32.000.000,00 seperti terlihat pada saldo rekening modal, atau dapat pula dihitung sebagai berikut:
   Total Aktiva                                                      Rp. 43.000.000,00
   Total Kewajiban                                                      11.000.000,00
clip image005 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUD   Aktiva bersih ( menurut nilai historis )             Rp. 32.000.000,00
Apabila perusahaan  bersedia untuk membayar Rp. 61.000.000,00 maka jumlah goodwill akan dapat ditentukan dengan mudah. Namun kita harus berhati-hati, sebab aktiva dan utang perusahaan dagang Boneo Makmur dalam neraca di atas dilaporkan berdasarkan nilai buku, bukan harga pasar. Oleh karena itu, kita harus menentukan harga pasar aktiva bersih perusahaan dagang Borneo Makmur di atas.
Harga pasar aktiva bersih perusahaan dagang Borneo Makmur  adalah Rp. 52.500,00 dengan perhitungan sebagai berikut:
Aktiva
   Kas ………………………………………………………….   Rp  2.000.000
   Piutang dagang ( neto ) ………………………………          6.400.000
   Persediaan ………………………………………………..          8.100.000
   Aktiva tetap ( neto ) …………………………………..        47.000.000
   Jumlah aktiva ………………………………………….                                          Rp.  63.500.000
Kewajiban
   Utang wesel …………………………………………….     Rp.  9.500.000
   Utang dagang …………………………………………..            1.500.000
    ………………………………………………………………                                        Rp.   11.000.000
clip image006 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUDAktiva bersih ( berdasar nilai pasar )                                                          Rp.   52.000.000
Dari perhitungan sebagai berikut terlihat adanya berbedaan yang cukup besar antara harga perolehan dengan harga pasar untuk persediaan dan aktiva tetap. Persediaan menurun harga perolehannya adalah Rp. 5.600.000,00, sedang menurut harga pasarnya Rp. 8.100.000,00. Aktiva tetap berdasar harga perolehannya adalah Rp. 29.000.000,00, tetapi menurut harga pasarnya adalah Rp. 47.000.000,00.
Adanya berbedaan antara harga perolehan dengan harga pasar seperti terlihat pada contoh ini tidak mengherankan. Dalam hal persediaan, selain karena harga sudah naik, salah satu penyebabnya mungkin karena perusahaan Borneo Makmur menggunakan metoda persediaan LIFO. Apabila harga naik dan perusahaan berkembang, maka harga perolehan persediaan yang akan dilaporkan dalam neraca adalah meliputi barang yang dibeli lebih awal dengan harga yang lebih rendah. Selain itu, seperti telah dijelaskan di atas, depresiasi aktiva tetap tidak lain adalah proses alokasi harga perolehan. Oleh karena itu nilai buku aktiva tetap bisa berbeda cukup besar dengan harga pasarnya.
Perhitungan Goodwill
Goodwill dihitung sebagai selisih antara harga beli dengan harga pasar aktiva bersih yang diperoleh. Dengan demikian goodwill pada contoh di atas akan menjadi Rp. 8.500.000,00 dengan perhitungan sebagai berikut:
Harga beli ( harga perolehan ) ……………………………….  Rp.  61.000.000,00
Kurangi : Harga pasar aktiva bersih ……………………….         52.000.000.,00
clip image007 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUDGoodwill ……………………………………………………………   Rp.    8.500.000,00
Pencatatan transaksi pembelian perusahaan dilakukan dengan mencatat aktiva bersih sebesar nilai pasarnya, goodwill sebesar harga perolehannya dan kas dikredit sebesar harga belinya. Selanjutnya goodwill dihapus selama jangka waktu tertentu yang ditaksir secara wajar. Amortisasi goodwill dicacat dengan mendebet Biaya Amortisasi Goodwill dan mengkredit rekening Goodwill. Dalam neraca, goodwill dilaporkan sebagai aktiva tak berujud.
BIAYA RESEARCH DAN PENGEMBANGAN
Biaya research dan pengembangan bukan aktiva tak berujud, tetapi karena pengeluaran-pengeluaran ini berhubungan dengan hak paten dan hak cipta maka pengeluaran tersebut akan dibahas pada makalah ini. Banyak perusahaan melakukan pengeluaran yang cukup besar jumlahnya untuk keperluan research dan pengembangan dalam rangka mendapatan produk baru atau proses yang lebih baik. Pada perusahan-perusahaan raksasa seperti IBM, Toyota, atau Mitsubishi, pengeluaran untuk keperluan ini mungkin melebihi anggaran belanja sebuah negara sedang berkembang.
Research dan pengembangan memiliki sejumlah masalah akuntansi: (1) kadang-kadang sulit untuk mengaitkan pengeluaran pada proyek tertentu, dan (2) seringkali terdapat ketidakpastian mengenai manfaat dari pengeluaran tersebut, baikbesarnya maupun kapan manfaat tersebut akan diperoleh. Oleh karena itu pengeluaran untuk research dan pengembangan biasanya dicatat sebagai biaya pada waktu terjadi pengeluaran. Pengeluaran seperti ini tidak memperhatikan apakah pengeluaran akan berhasil atau tidak berhasil:
Sebagai contoh, misalnya PT Ardi Perkasa melakukan pengeluaran sebesar Rp. 30.000.000,00 untuk biaya research dan pengembangan. Research dan pengembangan ini telah menghasilkan dua penemuan yang sangan berhasil dan telah memperoleh dua hak paten. Walaupun demikin, pengeluaran untuk research dan pengembangan tidak dapat dimasukkan dalam harga perolehan hak paten, melainkan tetap harus diperlakukan sebagai biaya pada periode dikeluarkannya biaya tersebut.
Banyak ahli tidak menyetujui pendekatan akuntansi ini. Mereka berpendapat bahwa dengan memperlakukan pengeluaran research dan pengembangan sebagai biaya, akan menyebabkan aktiva dan laba bersih menjadi terlalu rendah. Namun pihak lain berpendapat, bahwa dengan mengkapitalisasi pengeluaran ini hanya akan menimbulkan aktiva yang sifatnya sangat spekulatif dalam neraca. Pendapat mana yang benar sangat sulit untuk ditentukan. Perbedaan pendapat ini menunjukan betapa sulitnya menetapkan suatu acuan yang tepat dalam pelaporan keuangan.
PENYAJIAN DALAM LAPORAN KEUANGAN     
Pada umumnya aktiva tetap dilaporkan bersama-sama dengan sumber alam, tetapi aktiva tidak berujud dilaporkan tersendiri setelah aktiva tetap. Pelaporan harus cukup jelas dan bila mana perlu diberi catatan tambahan, baik dalam laporan itu sendiri ataupun dalam catatan atas laporan keuangan. Selain itu, metoda depresiasi atau amortisasi yang digunakan juga harus dijelaskan dan jumlah depresiasi atau amortisasi untuk tahun yang bersangkutan juga disebutkan. Contoh penyajian aktiva tetap, sumber alam dan aktiva tak berujud dalam neraca adalah sebagai berikut:
PT. ARDI PERKASA
Neraca sebagian
( dalam jutaan rupiah )
clip image008 AKUNTANSI UNTUK AKTIVA TAK BERUJUD/BERWUJUD 

Aktiva Tetap
Tambang batu bara, atas dasar
         Harga perolehan, dikurangi deplesi …………………….              Rp.      95,4
Gedung dan peralatan, atas
         Dasar harga perolehan ……….. Rp. 2.207,1
Kurangi: Akumulasi depresiasi               1.229,0
                                                                                             987,1
          Jumlah aktiva tetap …………….                                               Rp. 1.073,5
Aktiva tak berujud
          Hak Paten …………………………                                                         410,0
          Jumlah ……………………………..                                                Rp. 1.483,5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *