Pengertian Pseudo Science

Pseudo science secara sederhana bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang di atas kertas tampaknya rasional dan ilmiah, namun pada kenyataannya tidak. Penyebab munculnya pseudo science adalah adanya upaya dari segelintir manusia yang melakukan rekayasa atau distorsi terhadap data riset. Padahal, di dalam dunia penelitian, seorang peneliti wajib menampilkan data apa adanya (ansicht). Justru kaum Darwinis dan Neo-Darwinislah yang terjerumus ke dalamnya.

CONTOHNYA

  • Pada akhir abad ke-19, Ernst Haeckel, seorang ahli Biologi evolusionis, merekayasa seolah-olah embrio ikan dan embrio manusia mirip satu sama lain, sehingga embrio manusia diklaim memiliki insang. Ketika penipuan ini terbongkar, dia berkata: Setelah setuju membuat pengakuan tentang pemalsuan ini, saya seharusnya merasa terasa terhukum dan hancur, kalau saya tidak terhibur dengan melihat di samping saya ada ratusan rekan terhukum dalam kerangkeng tawanan. Banyak di antara mereka yang merupakan peneliti terpercaya dan ahli biologi terhormat. Sebagian besar diagram dalam buku-buku pelajaran, risalah-risalah, dan jurnal-jurnal biologi terbaik, akan menerima tuduhan pemlsuan dalam kadar yang sama, karena semuanya tidak pasti dan sedikit banyak telah ditambah, dikurangi, dan direkayasa. (lihat Francis Hitching, The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong, New York, Ticknor and Fields 1982, hlm. 204).
  • Rekayasa Fosil Manusia Piltdown. Manusia Piltdown adalah spesimen yang diduga berusia 500.000 tahun. Terdapat sekitar 500 tesis doktor yang menjadikan spesimen ini sebagai obyek risetnya. Namun di dalam artikel ilmiah karya Kenneth Oakley & William Le Gros Clark berjudul: “Piltdown” yang dimuat dalam jurnal Meydan Larousse, Volume 10, hlm. 33, diketahui bahwa berdasarkan penelitian kronologis terakhir lewat penggunaan metode fluorin, diketahui ternyata tengkorak manusia Piltdown tidak berusia 500.000 tahun, dan tulang rahangnya milik seekor kera biasa. Terbukti pula bahwa peralatan “primitif” yang ditemukan bersama fosil tersebut hanya imitasi sederhana yang telah diasah dengan peralatan baja. Dengan terbongkarnya rekayasa ini, “fosil manusia piltdown” disingkirkan dari British Museum setelah lebih dari 40 tahun dipajang di muka umum.
  • Rekayasa Manusia Nebraska. Pada tahun 1922, Henry Fairfield Osborn, manajer American Museum of Natural History, mengumumkan bahwa dia telah menemukan sebuah fosil gigi geraham yang berasal dari jaman Pleosin, di Nebraska Barat, dekat Snake Brook. Lantas, gigi ini dinyatakan memiliki karakteristik gigi manusia dan gigi kera. Dari satu gigi ini lantas beberapa ilmuwan evolusionis kala itu merekonstruksi sebuah fosil, dan secara resmi dinamai: Hesperopithecus Haroldc ooki alias Manusia Nebraska. Namun pada tahun 1927, berdasarkan temuan potongan-potongan dari Manusia Nebraska, diketahui bahwa ternyata gigi geraham yang ditemukan Henry Fairfield Osborn 5 tahun lalu itu bukan milik manusia atau kera, tetapi milik babi liar Ameria yang telah punah bernama: Prosthennops. (lihat W.K. Gregory, “Hesperopithecus Apparently Not An Ape Nor A Man”, Science, Vol. 66, Desember 1927, hlm. 579).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *