Penamaan artikel pada Ejaan

Penamaan artikel

Nama-nama geografis

Coba berikan padanan nama-nama geografis dalam bahasa Indonesia dari tempat-tempat di luar negeri apabila ada. Apabila tidak ada, tolong berikan nama tersebut dalam bahasa setempat, hindarkan pemberian nama dalam bahasa Inggris, namun tentu saja nama Inggris bisa disebut di dalam artikel. Nama dalam bahasa Inggris bisa pula dipakai sebagai nama halaman redireksi. Tetapi jika bahasa setempat tidak ditulis menggunakan huruf Latin, nama dalam bahasa Inggris bisa dipertimbangkan. Khusus mengenai nama-nama geografis di Jawa, ejaan resmi dalam bahasa Indonesia dipakai, meski ini sering tidak konsisten dan konsekuen. Kadangkala fonem /a/ pada posisi akhir terbuka dieja sesuka hati sebagai [o] atau [a].

Contoh:

Nama-nama tempat asing
Antwerpen dan bukan Antwerp (bahasa Inggris).
Moskwa dan bukan Moscow (bahasa Inggris).
Perancis dan bukan Prancis (berdasarkan kesepakatan).
Singapura dan bukan Singapore (bahasa Inggris).
Wina dan bukan Wien (bahasa Jerman) apalagi Vienna (bahasa Inggris).
Yerusalem dan bukan Jerusalem (bahasa Inggris).

Nama-nama tempat di Jawa
Surabaya dan bukan Suroboyo.
Wonogiri dan bukan Wanagiri.
Surakarta atau Solo, atau Sala dan bukan Surokarto.
Purwakarta dan bukan Purwokarto di Jawa Barat.
Purwokerto dan bukan Purwakerta di Jawa Tengah.

Nama-nama tempat yang sering dipakai di Indonesia
Kabupaten dan Kota. Untuk kabupaten dan kota di Indonesia, penamaan artikelnya memakai format “Kabupaten AA” dan “Kota AA”, contoh: Kabupaten Aceh Besar dan Kota Lhokseumawe, jadi bukan “Aceh Besar” dan “Lhokseumawe”. Ini berlaku walaupun nama tersebut hanya memiliki satu kegunaan. Pada contoh diatas Aceh Besar diberi nama Kabupaten Aceh Besar walaupaun tidak ada Kota Aceh Besar.
Kecamatan. Untuk nama kecamatan menggunakan pola “nama kecamatan, nama kabupaten atau kota” seperti Ciawi, Bogor dan Ciawi, Tasikmalaya bukan Kecamatan Ciawi karena nama kecamatan yang sama bisa terdapat di kabupaten yang lain.
Kelurahan/desa. Untuk nama kelurahan menggunakan pola “nama kelurahan, nama kecamatan, nama kabupaten atau kota” seperti Seutui, Baiturrahman, Banda Aceh dan bukan Seutui atau Kelurahan Seutui atau Seutui, Baiturrahman.
Pulau, Sungai, Danau, Pulau, Suku, Air terjun, Tanjung, Selat, Teluk. Mengikuti pola “Pulau AA”, “Sungai Mahakam” dan sebagainya. Contohnya: Pulau Simeulue dan bukan Simeulue. (terkecuali untuk Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan tidak memakai awalan pulau karena lebih populer)
Untuk nama-nama tempat di Indonesia yang memiliki banyak kegunaan, maka artikel dengan nama itu menjadi halaman disambiguasi. Contohnya: “Blitar” karena memiliki banyak arti, maka artikel “Blitar” menjadi halaman disambiguasi yang mengandung pranala ke Kota Blitar dan Kabupaten Blitar.

Nama-nama tokoh
Nama-nama tokoh dalam bahasa Indonesia, dieja sesuai ejaan asli meskipun bertentangan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Nama-nama tokoh asing juga sesuai ejaan dalam bahasa aslinya, hindarkan penggunaan ejaan bahasa Inggris. Namun apabila bahasa asli tidak ditulis menggunakan huruf Latin, ejaan dalam bahasa Inggris bisa dipertimbangkan. Hindarkan penggunaan nama-nama Latin atau Yunani dengan ejaan bahasa Inggris. Untuk nama-nama tokoh Tionghoa gunakan ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Apabila tidak ada coba gunakan ejaan Pinyin dan hindari ejaan Inggris berdasarkan Wade-Giles, meski ejaan terakhir ini kadangkala secara fonetis lebih tepat.

Pedoman penggunaan ejaan untuk nama tokoh Indonesia adalah sebagai berikut:
Kelahiran sebelum tahun 1947, gunakan Ejaan Van Ophuijsen (gunakan oe untuk u, tj untuk c, dj untuk j, dan j untuk y).
Kelahiran antara 1947 dan sebelum 1972, gunakan Ejaan Republik (gunakan tj untuk c, dj untuk j, dan j untuk y).
Kelahiran pada dan setelah 1972, gunakan Ejaan Yang Disempurnakan.
Jika ragu, atau tanggal kelahiran tokoh tidak tersedia, gunakan Ejaan Yang Disempurnakan.
Nama-nama tokoh sebaiknya ditulis secara lengkap berikut nama depan dan nama belakang, kecuali tokoh tidak memiliki nama depan secara resmi atau nama merupakan nama julukan.

Contoh:
Aristoteles dan bukan Aristotle.
Bill Clinton dan bukan William Jefferson Clinton
Boris Yeltsin dan bukan Yeltsin.
Jeanne d’Arc dan bukan Joan of Arc.
Kong Hu Cu dan bukan Kung Fu-tse
Lenin bisa dipergunakan seiring dengan Vladimir Lenin.
Mao Zedong dan bukan Mao Tse-tung.
Ptolemeus dan bukan Ptolemy.
Soeharto dan bukan Suharto.
Soekarno dan bukan Sukarno.
H.O.S. Tjokroaminoto dan bukan H.O.S. Cokroaminoto.

Penggunaan gelar
Gelar-gelar kebangsawanan dan akademis jangan dipakai sebagai judul artikel meskipun harus disebut dalam artikel sendiri.
Contoh:
Hamengkubuwono IX dan bukan Sultan Hamengkubuwono IX atau Sri Hamengkubuwono IX
Kartini dan bukan R.A. Kartini atau Raden Adjeng Kartini atau Raden Ajoe Kartini
Jusuf Kalla dan bukan Drs. Jusuf Kalla
Beberapa gelar lainnya yang juga harus dihindari antara lain: GPH (Gusti Pangeran Haryo), KGPH (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo), GBPH (Gusti Bendoro Pangeran Haryo) dan lain-lain. (lihat gelar kebangsawanan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *