Aturan penyerapan imbuhan pada Ejaan

Aturan penyerapan imbuhan

  1. Aturan-aturan imbuhan serapan dari bahasa asing mengikuti aturan yang kurang lebih sama dengan aturan pembentukan kata berimbuhan lain.
  2. Disambung jika menggunakan kata dasar. Contoh: dwiwarna, pascasarjana.
  3. Dipisah jika menggunakan kata bentukan atau turunan. Contoh: pra pemilu.
  4. Diberi tanda hubung jika kata dasar berawalan huruf kapital. Contoh: non-Indonesia, anti-Israel.

Catatan kaki

  1. Dalam penulisan modern biasa dieja sebagai ś
  2. Tidak semua akhiran -ty bahasa Inggris dialih-bahasakan menjadi -tas walaupun tak dimungkiri bahwa mayoritasnya demikian, dalam hal ini berlaku kata-kata seperti sekuriti dan komoditi yang menggunakan sistem kedua (-ti bukan -tas), hal yang sama berlaku pada kata properti (bukan propertas). Kata-kata lainnya misalnya kuantitas memang menggunakan penerjemahan -tas.
  3. sering diterjemahkan dengan awalan tak-, Contoh: takpadan (asimetri)
  4. sering diterjemahkan dengan awalan purba-, Contoh: purbatanggal (antedate)
  5. sering diterjemahkan dengan awalan swa-, Contoh: swadidik (autodidak)
  6. sering diterjemahkan dengan awalan dwi-, Contoh: dwibahasa (bilingual)
  7. sering diterjemahkan dengan awalan sapta-, Contoh: saptamarga
  8. sering diterjemahkan dengan awalan antar-, Contoh: antarnegara (internasional), antarbagian (interseksi)
  9. sering diterjemahkan dengan awalan eka-, Contoh: ekatuhan (monoteis)
  10. sering diterjemahkan dengan awalan panca-, Contoh: pancasila
  11. sering diterjemahkan dengan awalan pra-, Contoh: pratayang, prasangka, praduga
  12. sering diterjemahkan dengan awalan ulang-, Contoh: ulangsusun, ulangbuat
  13. sering diterjemahkan dengan awalan anak-, Contoh: anakjenis, anakbenua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *