Peran Filsafat dalam Sains

Paul Popper 150x150 Peran Filsafat dalam Sains Teman-teman ada yang mengkritik mengapa Evy membawakan artikel-artikel filsafat di situs faktailmiah.com. Filsafat bukan sains, ia berbeda, ia nir-ilmiah. Berikut argumentasi Evy menjawab pertanyaan tentang peran filsafat dalam fakta ilmiah.

To the point saja, filsafat bertugas menjaga kemanusiaan dari kepercayaan naif pada fakta ilmiah. Evy sudah berulang kali menekankan kalau fakta ilmiah berbeda dengan fakta matematika atau pengertian fakta bagi orang awam umumnya. Fakta ilmiah adalah kesepakatan umum berdasarkan pengetahuan mengenai apa yang benar dan apa yang salah.

Proses pencarian pengetahuan itu sendiri mengubah sebagian fakta ilmiah yang diyakini benar seratus tahun lalu, dan bukan tidak mungkin, fakta yang kita yakini sekarang akan berubah seratus tahun yang akan datang. Sebagian filsuf dan sosiolog bahkan mengklaim kalau fakta ilmiah tidak akan mencapai kebenaran mutlak.

Ya, sains memang dapat menemukan kebenaran mutlak, dan sebagian teori sains memang kebenaran mutlak, seperti diyakini Karl Popper. Hal ini karena teori sains dapat disalahkan. Teori baru yang lebih benar muncul dan memperbaiki. Tetapi, jika ia dapat disalahkan, berarti ia dapat pula dibenarkan. Teori gravitasi Newton misalnya, telah disalahkan Einstein, tetapi ia dibenarkan karena lebih sederhana.

Kelemahan Sains
Paradigma dalam sains terus diperbaiki. Paradigma baru menjawab teka-teki yang tak terpecahkan paradigma lama. Paradigma baru juga dapat membawa penerapan yang lebih luas atas jawabannya pada teka-teki. Tetapi paradigma lama tidak boleh semata dinyatakan salah. Paradigma heliosentris telah menjawab banyak misteri yang tak terpecahkan paradigma geosentris. Tetapi geosentris tetap benar sejauh anda mau berpikir rumit, seperti dilakukan Ptolomeus dalam menjelaskan orbit Mars. Geosentrisme bahkan terbukti baik dalam bidang ilmu geodesi dan dalam memandu hidup para aborigin Australia.

Feyerabend mengatakan bahwa ilmuan mencipta dan memuja teori ilmiah berdasarkan subjektivitas, kadang bahkan irasional. Tetapi, kita tidak bisa kritis terhadap gagasan sains karena ia memang lebih baik dari metode lain, terbukti dengan adanya komputer di depan wajah anda. Hanya saja, ia terlalu baik, sehingga berpotensi mengubah ilmuan menjadi begitu dogmatis dengan teori ilmiah. Akibatnya, ketika sesuatu berbau sains dimunculkan, ada dua kemungkinan: entah itu memang dibuat berdasarkan objektivitas ataukah hanya berbasis subjektivitas. Ini bukan hanya semata klaim ilmiah atas metode belajar jenis baru atau jampi-jampi kuno, tetapi bahkan ke laboratorium terkemuka di dunia.

Sains di Indonesia
Di dunia barat, sains diunggulkan dan dikedepankan. Para ilmuan mirip selebriti dengan segudang penghargaan. Di Indonesia, kondisi khusus kejayaan sains masih belum muncul. Kami sadar hal ini sehingga kami mendirikan faktailmiah.com. Namun, kita juga berpikir progresif, seperti di barat. Kita tidak ingin Indonesia selalu ketinggalan, jadi biarpun sains belum menjadi raja ilmu di negara ini, kita sudah mengiringi sains dengan filsafat.

Kita bisa berbesar hati. Mungkin masyarakat Indonesia adalah masyarakat pasca positivisme. Mereka tidak lagi terlalu mengutamakan sains. Optimisme ini memang sedikit menipu diri. Indonesia bahkan belum pernah melalui masa dimana sains berjaya. Orang yang mengatakan kalau sains itu tidak banyak manfaatnya kemungkinan besar menyimpulkan demikian dari ketidakmampuan pikirannya untuk mempelajari hal-hal rumit dalam sains. Pada akhirnya, orang yang menghina sains juga berdasar pada subjektivitas dan bahkan irasionalitas.

Kesimpulan
Filsafat bukanlah permainan cocok-cocokan seperti “filsafat bunga,” “filsafat angka nol,” “filsafat daun,” dan segala jenis cocologi lainnya. Filsafat adalah cara berpikir, ia mempertanyakan dengan cara terbaik yang mungkin, sementara sains menjawab dengan cara terbaik yang mungkin. Keduanya harus berjalan seiringan sehingga tidak ada yang saling menyimpang. Itu mengapa filsafat sains kami letakkan dalam kategori berpikir kritis. Ia adalah pengawas ilmu pengetahuan.

Referensi

  1. John Preston, Gonzalo Munévar, and David Lamb (eds). The Worst Enemy of Science ? Essays in memory of Paul Feyerabend.Kuhn, T. 1962. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: University of Chicago Press
  2. Popper, K., Eccles, J.C. 1977. The Self and its Brain. Berlin: Springer-Verlag.

Referensi lanjut

  1. Feyerabend, P. 1975. Against Method. London: Verso.
  2. Kenneth Baynes, James Bohman and Thomas McCarthy (eds). 1987. After Philosophy: End or Transformation.
  3. Horgan, J. 1997. The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age. New York: Broadway Books.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *